Pernikahan Kahiyang-Bobby Mengingatkan Kembali Sejarah Pembentukan Budaya Nusantara

| 02 November 2017 11:33
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi putrinya Kahiyang Ayu (kiri) memberikan keterangan pers terkait pesiapan pernikahan putrinya di kediaman pribadinya di Solo, Jawa Tengah. (Foto: Setpres)
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi putrinya Kahiyang Ayu (kiri) memberikan keterangan pers terkait pesiapan pernikahan putrinya di kediaman pribadinya di Solo, Jawa Tengah. (Foto: Setpres)
Metrotvnews.com, Jakarta: Pernikahan putri Presiden Joko Widodo Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution cukup mendapat banyak sorotan dari rakyat Indonesia. Bukan hanya karena menjadi putri orang nomor satu di Indonesia, perbedaan latar belakang calon mempelai juga memberi kesan tersendiri bagi masyarakat.

Budayawan Radhar Panca Dahana menilai pernikahan beda budaya sebenarnya sudah sering terjadi di Indonesia. Bukan hanya putri presiden, ada banyak pernikahan lain yang berlatar budaya berbeda.

"Sebenarnya pernikahan semacam ini biasa saja, normal, bisa terjadi kapan saja, dimana saja. Bahkan ribuan tahun lalu kejadian seperti ini bagian dari proses pembentukan kebudayaan nusantara," ujar Radhar, melalui sambungan telepon dalam Selamat Pagi Indonesia, Kamis 2 November 2017.

Menurut Radhar, pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution secara tidak langsung mengingatkan kembali sejarah pembentukan budaya nusantara. Salah satu proses pembentukan kebudayaan nusantara terjadi karena perkawinan silang antarbudaya.

Suku-suku bangsa Indonesia, kata Radhar, sifatnya campuran dari generasi ke generasi yang menghasilkan mestizan. Di masa lalu mestizan membentuk bangsa baru, komunitas, adat, dan tradisi baru.

Kaum meztizan ini umumnya berkumpul di daerah urban yang zaman dahulu berada di daerah bandar atau pinggiran. Di tempat tersebut bertemulah berbagai macam suku bangsa yang kemudian saling berkawin dengan bangsa lain dengan ragam adat, tradisi, simbol, dan kebiasaan sehingga melahirkan komunitas baru.

"Jadi sebenarnya Indonesia dibentuk oleh persilangan semacam itu. Jadi tidak ada seseorang atau sekelompok komunitas suku bangsa mengklaim bahwa dirinya adalah original. Bahkan menganggap dirinya lebih pribumi dari yang lain. Yang namanya persilangan ya pribumi," ungkap Radhar.

Radhar mengatakan ketika misalnya orang jawa kawin silang dengan keturunan arab, cina, persia, bahkan yahudi tetap dikatakan sebagai pribumi. Pembentukan suku bangsa Indonesia mengalami proses pendewasaan, maturasi kultural, yang jauh lebih kuat dalam kebhinekaaan.

Bahkan bisa dikatakan bahwa multikultural dan interkultural Indonesia lebih kuat dibanding bangsa lain. Perbedaan akhirnya menjadi sebuah keniscayaan. Mereka yang mengingkari perbedaan pada dasarnya mengingkari kodratnya sebagai bangsa Indonesia.

"Pernikahan hanyalah pesan dari sebuah peristiwa bahwa perbedaan itu indah. Integrasi kultur negeri ini menciptakan integritas, sebaliknya separasi hanya mengacaukan karakter bangsa kita. Karena itu mari saling menghormati," jelasnya.

(MEL )