Laksma Bambang Udoyo Didakwa Terima Suap Rp1 M

Dero Iqbal Mahendra | 02 November 2017 08:15
Laksamana Pertama TNI Bambang Udoyo pergi usai menjalani sidang kasus suap pengadaan satelit monitoring Bakamla di Pengadilan Militer Tinggi II, Jakarta Timur. Foto: Antara/Sigid Kurniawan.
Laksamana Pertama TNI Bambang Udoyo pergi usai menjalani sidang kasus suap pengadaan satelit monitoring Bakamla di Pengadilan Militer Tinggi II, Jakarta Timur. Foto: Antara/Sigid Kurniawan.
Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Data dan Informasi Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Pertama (Laksma) Bambang Udoyo didakwa menerima suap Rp1 miliar. Fulus itu terkait pengadaan monitoring satellite.

"Suap diterima dari Direktur PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah melalui dua anak buahnya, yaitu Hardy Stefanus dan Muhammad Adami Okta," kata oditur militer Brigjen Rachmad dalam sidang di Pengadilan Militer Jakarta, Rabu, 2 November 2017.

Suap diberikan agar para pejabat Bakamla memenangkan PT Melati Technofo Indonesia (MTI) dalam pengadaan monitoring satellite senilai Rp222,43 miliar. Pada Desember 2016, pukul 10.00 WIB, Adami dan Hardy menyerahkan uang S$100 ribu kepada Bambang di ruangannya di Bakamla. 

Pada sore harinya, Bambang menghitung uang yang dikemas di dalam amplop tersebut. Fulus itu lalu dia bawa pulang ke rumah untuk diserahkan ke istrinya, Andi Marfitri. 

Malam harinya, Bambang menghitung uang itu. Ternyata, jumlahnya kurang dari Rp1 miliar. Padahal, informasi dari Kepala Bakamla Laksamana Madya Arie Soedewo Arie Sudewo, dia akan terima Rp1 miliar.

"Karena jumlah uang yang diterimanya kurang dari Rp1 miliar, pada 8 Desember 2016, terdakwa mengirim pesan melalui Whatsapp kepada Hardy bahwa uang yang diserahkan kurang dari Rp1 miliar," kata Brigjen Rachmad.

Hardy kemudian meneruskan pesan itu kepada Adami. Adami meminta Hardy mengambil kekurangan uang itu di PT Merial Esa. "Setelah mengambil uang itu, pada 8 Desember, di kantor Bakamla, Hardy menyerahkan uang sebesar S$5.000 dan diterima terdakwa," ungkap Rachmad.

Uang yang baru diterima itu kembali diserahkan kepada istrinya, Andi Marfitri. Setelah itu, fulus ditukar menjadi Rp46 juta.

Baca: ?KPK Telusuri Keberadaan Fahmi Habsyi dari Sejumlah Saksi

Sebagian hasil suap itu kemudian digunakan untuk sedekah. Sebanyak Rp10 juta diberikan kepada yayasan yatim piatu di Jatirahayu Bekasi, Rp5 juta untuk Masjid Mutakin di Kompleks TNI AL Bogor, Rp26 juta untuk yayasan yatim piatu di Tasikmalaya, Rp5 juta untuk yayasan Baitul Yatim di Surabaya.

Sebanyak S$20 ribu ditukarkan menjadi Rp189 juta dan ditambah uang pribadi Bambang sebesar Rp10 juta menjadi Rp199 juta oleh Andi Marfitri. Uang itu lalu ditukarkan ke dolar AS menjadi US$15.000 dan rencananya akan digunakan untuk umrah keluarga.

(OGI )