OJK: Pertumbuhan Kredit di September Capai 7,8%

Desi Angriani | 01 November 2017 04:03
Ketua DK-OJK Wimboh Santoso (Foto: MTVN/Eko Nordiansyah)
Ketua DK-OJK Wimboh Santoso (Foto: MTVN/Eko Nordiansyah)
Metrotvnews.com, Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit tumbuh sebesar 7,8 persen hingga periode September 2017. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Kalau kita lihat pertumbuhan kredit sampai hari ini secara year on year (yoy) sudah 7,8 persen," ujar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK-OJK) Wimboh Santoso, di Gedung Marie Muhammad Direktorat Jenderal Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa malam 31 Oktober 2017.

Sementara itu, OJK telah merevisi proyeksi pertumbuhan angka penyaluran kredit dari 13 persen menjadi 11 persen di akhir tahun. Menurutnya target tersebut cukup berat lantaran perbankan masih melakukan konsolidasi untuk menurunkan bunga kredit.

"Ini memang agak berat. Kita perkirakan akan tercapai 10 persen," ungkap dia.

Meski demikian sejumlah bank mulai melakukan restrukturisasi untuk kategori kredit komersial atau modal kerja dengan kisaran kredit Rp250 miliar sampai Rp900 miliar. Para debitur mayoritas berasal dari pengusaha yang bergerak di lini bisnis pertambangan dan kelapa sawit (CPO).

"Mereka mengalami kesulitan cash flow ketika harga komoditas tambang dan CPO mengalami penurunan tajam," tambahnya.

Adapun restrukturasi itu berdampak positif terhadap penurunan angka rasio kredit bermasalah (NPL). Pada September lalu NPL berada di kisaran 2,9 persen. "Jadi ini tanda restrukturisasi NPL sudah ada tanda-tanda perbaikan," tuturnya.

Sementara Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 10 sampai 12 persen hingga 2018.  Proyeksi tersebut lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan kredit di 2017 yang hanya berkisar delapan sampai 10 persen.

"Tadi, perihal pertumbuhan kredit itu kita melihat dari BI pertumbuhan kredit di 2017 itu masih di antara 8-10 persen. Dan kita melihat bahwa kalau di 2018 akan agak perbaikan di kisaran 10-12 persen," kata Gubernur BI Agus Martowardojo.

Agus menuturkan target tersebut dilatarbelakangi oleh penuruan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate sebanyak dua kali hingga menyentuh level 4,25 persen. Namun pertumbuhan kredit masih sulit digenjot lantaran kecenderungan kredit bermasalah serta perbankan yang tidak percaya diri menurunkan bunga kredit.

"Memang salah satu tantangan yang sedang dihadapi adalah untuk meyakinkan korporasi dan perbankan bisa menyelesaikan konsolidasi. Dan kita memperhatikan bahwa pertumbuhan kredit yang di bawah dua digit atau dikisaran satu digit adalah salah satu tantangan yang musti dihadapi," tuturnya. (ABD )