Polri Diminta 'Pamer' Pengungkapan Kasus di Singapura

Arga sumantri | 14 September 2017 17:50
 Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto. Foto: Metrotvnews.com/Juven Sitompul
Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto. Foto: Metrotvnews.com/Juven Sitompul
Metrotvnews.com, Jakarta: Keberhasilan Kepolisian Republik Indonesia mengungkap perdagangan manusia diapresiasi para delegasi dalam konferensi polisi se-ASEAN (ASEANAPOL) di Singapura. Polri pun diminta 'pamer' cara pengungkapan kasus kejahatan kemanusiaan itu di hadapan para delegasi.

Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto menjelaskan Polri membeberkan soal terungkapnya kejahatan perdagangan manusia di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ari menjelaskan kasus itu terjadi pada Mei 2015.

Saat itu, dua kapal bermotor pengangkut imigran di Pulau Lanu, Rote, NTT, terdampar. Kedua kapal itu rupanya mengangkut 65 imigran.

"Yang terdiri dari 10 warga negara Bangladesh, 1 warga negara Myanmar, dan 54 warga negara Srilangka," papar Ari Dono dalam keterangan tertulisnya, Kamis 14 September 2017.

Para korban, kata dia, berangkat dari Tegal, Jawa Tengah, menuju Selandia Baru. Saat memasuki perairan Australia, kapal dicegat petugas perbatasan dan didorong sampai ke perbatasan Indonesia, lalu terdampar di Pulau Rote, NTT.

Ari menyatakan para korban mengaku sengaja diselundupkan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. "Karena di negara asalnya, mereka merasa terancam,” terang Ari.

Polri lalu menangkap sindikat yang mengorganisasi penyelundupan manusia. Pengendali sindikat bernama Thines Khumar dan Abrham Louhenapessy alias Kapten Bram dicokok.

Pengadilan, lanjutnya, memvonis pelaku dengan kurungan lima tahun penjara. Pelaku dinilai terbukti melanggar UU Keimigrasian.

"Keberhasilan Polri mendapat apresiasi dari seluruh delegasi ASEANAPOL. Mereka ingin belajar agar bisa juga mengungkap salah satu jenis kejahatan transnasional ini,” kata dia. (UWA )