Dirjen Pajak Minta Maaf tak Bisa Memuaskan Penulis

Suci Sedya Utami | 14 September 2017 07:52
Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi. (FOTO: ANTARA/Agung Rajasa)
Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi. (FOTO: ANTARA/Agung Rajasa)
Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi meminta maaf di hadapan para pelaku seni jika selama ini dalam melaksanakan mandat dari konstitusi untuk mengumpulkan penerimaan pajak masih membuat masyarakat tak tenang.

Hal tersebut disampaikan Ken dalam pertemuan bincang pajak antara Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dengan pelaku seni seperti penulis dan musisi.

"Sebagai pimpinan jenderal pajak apabila selama mengemban amanat UU masih ada yang enggak menyenangkan, masih ada yang tidak puas saya minta maaf, karena memuaskan seseorang memang susah," goda Ken di Kantor pusat DJP, Jakarta Selatan, Rabu malam 13 September 2017.

Sebab, selama ini banyak wajib pajak yang mengeluh dan meminta perlakuan khusus terhadap pajak yang dikenakan. Masing-masing wajib pajak meminta agar otoritas pajak memperhatikan keinginan yang disampaikan.

Keinginan yang datang baru-baru ini yakni dari para penulis yang menganggap tidak mendapatkan keadilan pajak. Dengan skema dan tarif pajak yang dikenakan menjadi beban bagi mereka. Bahkan, Persatuan Penulis Nasional (Satupena) meminta agar tarif pajak bagi penulis disamakan seperti UMKM yakni final satu persen.




Dalam Kongres I Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) di Kota Solo, Jawa Tengah beberapa waktu lalu terungkap bahwa kesejahteraan penulis di Indonesia masih jauh dari harapan. Salah satu faktornya, pengenaan pajak pada honor penulis dalam setiap buku yang diterbitkan.

Ketua Panitia Kongres, Imelda Akmal, menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi minimnya kesejahteraan penulis. Salah satunya, pajak. "Penulis masih dikenai pajak 15 persen dari honornya menulis sebuah buku," kata Imelda.

Angka tersebut, lanjutnya, lebih tinggi bila dibandingkan profesi lain. Misal, kata dia, arsitek yang hanya dikenai pajak empat persen. Tak hanya itu, penerbit, percetakan, serta toko buku juga dikenai pajak yang cukup tinggi. "Hal tersebut akhirnya berpengaruh ke harga buku," ungkap dia. (AHL )