Bisnis Ritel Diramal Tumbuh Stagnan

Desi Angriani | 13 September 2017 18:38
Illustrasi Foto Terbit..
Illustrasi Foto Terbit..
Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey memprediksi pertumbuhan bisnis ritel akan sama dengan tahun lalu yang berkisar di angka 9 persen. Optimisme tersebut didorong oleh berbagai kebijakan pemerintah yang menahan harga energi hingga Perpres perekatan berusaha.

"Pertumbuhan ritel diperkirakan  masih berkisar 8,9 hingga 9 persen," katanya di Cafe Trattoria, Kawasan SCBD Sudirman, Jakarta, Rabu 13 September 2017.

Roy menuturkan, kebijakan pemerintah yang menahan harga energi mulai dari tarif listrik hingga harga Bahan Bakar Minyak dipercaya menumbuhkan konsumsi karena votalitas terhenti. Kemudian kebijakan BI 7-Day Repo Rate yang menurunkan suku bunga acuan sebesar 0,25 poin akan berdampak pada eskalasi bunga pinjaman. 

"Dengan tidak naiknya beban energi akan membuat konsumen atau masyarakat melakukan konsumsi," tutur dia.

Selain itu, pemerintah juga meluncurkan kebijakan percepatan berusaha yang akan mengawal investasi di daerah. Juga peredaran dana alokasi umum (DAU) di daerah dapat memaksimalkan dan menggerakkan produktivitas masyarakat dan berpengaruh kepada konsumsi.

Lebih lanjut Roy mengungkapkan, lambatnya pertumbuhan ritel 
karena terjado percepatan bonus demografi. Usia produktif yang jumlahnya lebih besar tidak disertai dengan pekerjaan formal yang mereka miliki. 

"Kemudian berbagai kemudahan mendapatkan barang langsung via paypal, AliPay, AmazonePay seringkali menyebabkan undetection Online/E-commerce transaction, yang bisa saja masuk tanpa pajak. Kemudahan ini yang mengubah pola belanja," tambah dia.

Sementara itu, terjadi pergeseran gaya hidup kelas atas menjadi hobi travelling dan jalan-jalan. Mereka tak lagi menghabiskan uang di sektor ritel. 

"Semakin banyak pesawat pribadi yang hilir mudik di Halim bayangkan banyak kemampuan menyewa jet dan tidak ritel lagi," tutup dia.
(SAW )