Dalai Lama: Umat Buddha Pasti Bantu Muslim Rohingya

Sonya Michaella | 11 September 2017 09:11
Tokoh spiritual agama Buddha, Dalai Lama. (Foto: AFP)
Tokoh spiritual agama Buddha, Dalai Lama. (Foto: AFP)
Metrotvnews.com, Tibet: Tokoh spiritual agama Buddha, Dalai Lama mengatakan bahwa umat Buddha dipastikan akan membantu umat Islam, terutama Rohingya yang mengalami kekerasan komunal di Rakhine State, Myanmar.

"Saya bisa merasakannya. Menyedihkan, sangat sedih," kata dia, dikutip dari Asian Correspondent, Senin 11 September 2017.

"Umat Buddha pasti membantu umat Muslim yang malang. Buddha juga pernah mengalami hal seperti itu," lanjut dia.

Rohingya dianggap sebagai etnis paling terpersekusi di dunia. Sebagian orang di Myanmar menganggap Rohingya sebagai imigran gelap dari Bengali atau Benggala. 

Myanmar, negara yang dulu disebut Burma, menyalahkan teroris sebagai pemicu kekerasan terbaru di Rakhine. 

ARSA membunuh 12 petugas keamanan di pos perbatasan Myanmar hampir dua pekan lalu. Sebagai aksi balasan, militer Myanmar melancarkan operasi perburuan militan yang berimbas pada masyarakat sipil di Rakhine.

Pernyataan ARSA mendorong adanya bantuan kemanusiaan untuk semua korban di Rakhine, "terlepas dari apapun etnis atau agama mereka." ARSA juga meminta pemerintah Myanmar mengikuti gencatan senjata ini dan berpartisipasi dalam membantu korban kekerasan.

Indonesia, dalam pertemuan antara Menlu Retno dengan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi, meminta agar pemerintah Myanmar melibatkan Indonesia dan ASEAN untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat di Rakhine.

Dalam pertemuan itu, Menlu Retno juga menyampaikan usulan Indonesia dalam formula 4+1. Usulan Indonesia itu adalah perdamaian dan keamanan, menahan diri, perlindungan tanpa memandang etnis dan agama, serta bantuan kemanusiaan.

Indonesia juga meminta pemerintah Myanmar mengimplementasi rekomendasi yang diberikan Kofi Annan. Hal ini disambut baik oleh Suu Kyi, dia berjanji akan membentuk komisi khusus untuk mengimplementasikan rekomendasi Kofi Annan tersebut.

  (WIL )