Lima Fakta Film It

Purba Wirastama | 11 September 2017 09:00
Badut Pennywise di film It (warner bros)
Badut Pennywise di film It (warner bros)
Metrotvnews.com, Jakarta: It, film horor adaptasi karya sutradara Andres Muschietti, telah diputar di bioskop sejak Rabu 6 September 2017. Film produksi New Line Cinema ini merupakan adaptasi dari novel ke-18 karya Stephen King terbitan 1986.

Sebelum It, sudah ada lusinan karya fiksi Stephen yang dibuat dalam versi film panjang sejak 1974. Penulis AS kelahiran 1947 ini memang terbilang produktif dengan total karya 56 novel dan 10 buku kompilasi cerita pendek. Pada tahun ini pula, ada sedikitnya dua film hasil adaptasi novel Stephen lain, yaitu The Dark Tower  dari Columbia Pictures dan Gerald's Game  dari Netflix.

Berikut lima fakta lain seputar film It  yang dirangkum dari sejumlah sumber, serta menyimak ulasannya di sini.

1. Berawal dari film televisi

Pada 1990, novel It  pernah diadaptasi ke dua episode film televisi garapan sutradara Tommy Lee Wallace dan penulis Lawrence D Cohen. Kedua seri film ditayangkan di kanal televisi ABC di AS dengan distributor Warner Bros Television. Tim Curry menjadi aktor pemeran badut Pennywise.

Dalam wawancara dengan Yahoo! TV  pada November 2015, Lawrence menyebut bahwa serial mini ini menarik 30 juta penonton selama dua malam dan menaikkan rating televisi dengan drastis. Episode pertama juga mengantarkan komposer musik Richard Bellis meraih piala Emmy dalam kategori komposisi musik terbaik untuk film dan serial.




2. Upaya kedua, adaptasi versi film bioskop

Upaya pertama datang dari Warner Brothers pada 2009. Dave Kajganich direkrut sebagai penulis naskah dengan target penonton Restricted atau 17+. Pada 2012, Cary Fukunaga, sutradara serial True Detective  dipastikan duduk di kursi sutradara. Will Poulter dibidik sebagai aktor pemeran Pennywise.

Pada Mei 2014, Warner Bros melempar proyek ini ke divisi New Line Cinema. Setahun kemudian, seperti dilaporkan The Wrap, Cary keluar dari proyek karena friksi berulang kali dengan pihak NLP terkait perbedaan visi kreatif. Cary disebut enggan berkompromi dengan dana produksi yang dipotong. Dana awal yang disetujui adalah USD 30 juta.

"Aku mencoba membuat film horor yang tak biasa. Film seperti ini tak cocok dalam perhitungan pengeluaran dan pendapatan mereka," kata Cary, dikutip dari Variety.

"Perjuangan kami adalah persoalan kreatif. Mereka tidak peduli bahwa ada dua film. Dalam film pertama, aku ingin membuat film horor yang lebih bagus dengan karakter yang nyata. Mereka tidak mau karakter apapun. Mereka hanya ingin pola cerita dan kengerian. Aku menulis naskah. Mereka ingin aku membuatnya lebih sopan dan konvensional. Namun aku rasa kita tidak dapat membuat kisah versi Stephen King dengan sopan."

Andres Muschietti lantas dibidik sebagai sutradara. Penulisan naskah diserahkan ke tim baru berisi Roy Lee, Dan Lin, Seth Grahame-Smith, David Katzenberg, dan Barbara Muschietti. Aktor utama juga diganti karena jadwal produksi tidak cocok.


3. Kisah adaptasi dari 1.000 lebih halaman novel

It  menjadi novel terpanjang kedua Stephen King dengan total 1.138 halaman, setelah The Stand dengan 1.153 halaman. Penghitungan ini, menurut laporan Time, dirilis oleh tim kantor Stephen dan merujuk ke novel versi Bahasa Inggris terbitan AS.

Karena panjang naskah ini, kedua film adaptasi dibuat sebagai dwilogi. Kisah yang diceritakan juga terjadi dalam dua latar waktu berbeda, yaitu saat ketujuh tokoh utama anak-anak dan saat mereka dewasa. Film televisi 1990 berdurasi total 192 menit. Sementara film pertama It  (2017) berdurasi 135 menit.


4. Syuting cerita teror di kota penuh kedamaian

Port Hope, salah satu kota di bagian selatan Kanada, dipilih sebagai lokasi syuting untuk set eksterior kota Derry, tempat para tokoh utama dan monster badut Pennywise tinggal. Unsur utama kisah It  adalah teror maut yang mengancam anak-anak kota Derry. Menurut produser Barbara Maschietti, suasana Port Hope begitu tenang dan bertolak belakang dengan cerita.


(Foto: Warner Bross)

"Kami memilih Port Hope karena kecantikan kota itu. Kami mencari kota tenang damai, yang dapat memberi kontras yang sangat kuat dengan cerita. Port Hope adalah suatu tempat impian kami semua untuk tumbuh besar. Naik sepeda dalam musim panas panjang, jalan-jalan di tepi danau, jalanan yang indah, rumah menarik dengan halaman hijau, dan penduduk yang hangat," kata Barbara, dikutip NorthumberlandNews.com.

5. Diprotes kalangan badut

Pennywise, sang tokoh antagonis utama, menampakkan diri dalam kostum badut berhidung bola merah. Badut inilah yang menebar teror ke anak-anak kota Derry dalam berbagai wujud monster. Pam Moody, presiden World Clown Association, menyalahkan Stephen King dan film adaptasi karena kisah It  dianggap telah merusak citra mereka sebagai badut penghibur.

"Semua berawal dari (novel) versi asli It, yang mengenalkan konsep (seram) karakter ini. Dia adalah karakter fiksi ilmiah. DIa bukanlah badut dan tak punya urusan apapun dengan dunia badut," kata Pam, dikutip dari The Hollywood Reporter.

Penilaian Pam secara spesifik merujuk pada kasus epidemi Creepy Clown atau Killer Clown yang terjadi di beberapa kota AS pada pertengahan 2016. Waktu itu sejumlah orang melaporkan telah melihat orang asing berkostum badut di tepi hutan. Banyak orang ketakutan.

Kabar soal fenomena ini tersebar di media sosial dan menuai beragam hujatan. Coulrophobia atau fobia badut semakin menjadi bahasan serius. Sejumlah orang juga ikut-ikutan memakai kostum badut hanya untuk mengerjai orang lain.

Terkait penilaianPam dan anggapan serupa dari sejumlah pihak, Stephen memiliki pandangan tersendiri. Dia berkicau lewat akun Twitter @StephenKing pada 10 April 2017.

"Para badut marah padaku. Maaf, sebagian besar badut memang keren. Namun, dari dulu anak-anak selalu takut terhadap badut. Jangan musnahkan pembawa pesan karena pesannya," tukas Stephen. (DEV )