Slank Hanya Membawakan Materi Album Pertama Hingga Ketujuh saat Synchronize Festival 2017

Agustinus Shindu Alpito | 08 September 2017 12:55
Slank (Foto: Antara)
Slank (Foto: Antara)
Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi penggemar sejati Slank, ini adalah kabar yang membahagiakan. Grup asal Potlot itu dipastikan membawakan materi klasik mereka dalam Synchronize Festival 2017, yang digelar di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, pada 6, 7, 8 Oktober.

Dalam jumpa pers di kantor demajors, Jakarta Selatan, pada Kamis (7/9/2017), David Karto selaku Festival Director Synchronize Festival 2017 memastikan kabar itu.

“Ide dari kami Slank membawakan (materi) album satu sampai tujuh. Cerita mereka sakral di sana. Bimbim dan teman-teman Slank menyambut baik,” ujar David.

Seperti kita ketahui, Slank memiliki sejarah panjang dalam perjalanan musikalitas mereka di era 1990-an. Tujuh album pertama Slank dirilis pada era itu.

Album perdana Slank, Suit… Suit… He… He… dirilis pada 1990, disusul album Kampungan (1991), Piss! (1993), Generasi Biru (1994), Minoritas (1996), Lagi Sedih (1997), dan Tujuh (1998).

Beberapa album di atas masih dikerjakan Slank bersama formasi terdahulu yang melibatkan Indra Q (keyboardist), Bongky (bassist), dan Pay (gitaris).

Pada masa-masa itu citra Slank sebagai grup ugal-ugalan sangat lekat. Kala itu mereka juga dikenal dekat dengan dunia terlarang narkoba.

Kisah haru, gelap, putus asa, juga harapan dari para personel Slank terekam dengan jelas dalam album-album itu. Contohnya, lagu Anyer 10 Maret (album Piss!).

“Anyer 10 Maret itu lagu broken heart. Ada dua orang yang sedang gue rindukan. Cewek gue dan ibu gue. Bagaimana caranya ide ini tambah tersayat-sayat? Lalu kami sengaja ke Anyer pas ulang tahun (Kaka berulang tahun pada 10 Maret),” jelas Kaka, seperti dipublikasikan dalam artikel Ketika Slank Terjebak di Dimensi Lain

Soal lirik “tak hilang ditelan bergelas-gelas arak yang kutenggakkan,” Bimbim bercerita pemilihan kalimat itu untuk menggambarkan bahwa minuman beralkohol yang ditenggak dalam jumlah banyak pun tidak mempan untuk membuat lupa hati yang sedang dirundung rindu dan kecemasan.

Juga singel Terbunuh Sepi dari album Generasi Biru yang menggambarkan apa yang dirasakan Bimbim dan Kaka ketika mulai bercengkrama dengan narkoba.

Terbunuh Sepi itu sakau pertama kali. Kami gelisah, tetapi tiap minum obat flu hilang, lalu datang lagi (perasaan gelisah). Waktu itu kami lagi rekaman (di Puncak), yang tiga personel turun ke Jakarta, kami (Kaka dan Bimbim) ditinggal dengan materi musik doang,” kata Kaka.

Kemudian Bimbim menimpali bahwa mereka pada awalnya tidak mengerti dampak yang ditimbulkan dari narkoba yang mereka konsumsi.

“(Saat membuat lagu Terbunuh Sepi) itu awal-awal kami sakau. Perasaan gelisah, tetapi kami belum mengerti gelisah karena apa. Justru perasaan itu dituang ke lirik dan nada. Ternyata yang bikin kami merasa ketagihan (pada narkoba) itu pikiran kami. Seandainya kami enggak mengerti terus sakau itu karena narkoba, mungkin kami bisa membawa ‘sakau’ itu ke jalan yang beda (menjadi karya),” tukas Bimbim.

Tahun ini adalah tahun kedua Synchronize Festival digelar. Festival ini diharap menjadi sebuah gerakan yang mewakili industri musik sidestream di Indonesia. Sebanyak 96 grup musik dan tampil pada tahun ini. Salah satu yang menarik adalah kehadiran legenda musik Ebiet G Ade.

  (ELG )