Bangkit dari Krisis Prestasi Olahraga

| 02 September 2017 07:28
Bangkit dari Krisis Prestasi Olahraga
Bangkit dari Krisis Prestasi Olahraga
Karena itulah, olahraga prestasi dilaksanakan melalui proses pembinaan dan pengembangan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan. Harus jujur diakui bahwa saat ini Indonesia gagal membina dan mengembangkan olahraga prestasi.

Fakta yang telanjang bulat ada di hadapan kita ialah prestasi olahraga Indonesia di kawasan Asia Tenggara turun dan turun terus. Pada ajang SEA Games yang menjadi ritual dua tahunan itu, Indonesia sudah tidak lagi menjadi negara yang diperhitungkan. Padahal, Indonesia mendominasi prestasi pada periode awal digelarnya ajang ini pada 1977.

Dalam periode 20 tahun terakhir, posisi Indonesia konsisten berada pada rentang peringkat tiga hingga lima. Terus terang dikatakan bahwa SEA Games 2017 di Malaysia menjadi monumen kegagalan olaharaga Indonesia. Disebut kegagalan karena 'Kontingen Merah Putih' hanya mampu mendulang 38 medali emas dari 50 emas yang ditargetkan.

Tidaklah berlebihan jika dikatakan negeri ini berada dalam situasi darurat olahraga. Jangan berlama-lama berlarut dalam situasi darurat prestasi olahraga. Kita harus segera bangkit untuk menyambut Asian Games 2018 karena Indonesia bertindak selaku tuan rumah penyelenggaraan ajang olahraga empat tahunan negara-negara Asia tersebut.

Tolok ukur kesuksesan Asian Games bukan semata-mata memenuhi target delapan besar. Target itu dicapai murni karena prestasi, bukan menghalalkan segala cara dengan memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah. Jauh lebih penting lagi ialah Indonesia sukses sebagai tuan rumah.

Karena itulah, pembangunan infrastruktur olahraga harus selesai tepat waktu tanpa korupsi. Prestasi buruk di SEA Games Malaysia perlu dievaluasi secara menyeluruh. Hasil evaluasi itu bisa dijadikan bahan untuk perbaikan menghadapi Asian Games. Pada perhelatan SEA Games, persiapan kontingen Indonesia serbainstan.

Ada persoalan keterlambatan uang saku, tidak adanya alat bertanding, batalnya pemberangkatan uji coba serta pemusatan latihan. Singkat kata, kegagalan Indonesia akibat salah urus olahraga prestasi. Lebih ironis lagi, salah urus olahraga prestasi seakan dilestarikan sejak lahirnya UU Sistem Keolahragaan Nasional.

Padahal, undang-undang itu sudah secara rinci mengatur peran pemerintah dan pemerintah daerah dalam memajukan olahraga prestasi. Disebutkan secara eksplisit bahwa pengelolaan olahraga nasional merupakan tanggung jawab seorang menteri. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sudah meminta maaf dan mengaku bertanggung jawab atas kegagalan Kontingen Indonesia pada SEA Games 2017.

Permintaan maaf saja tidak cukup. Harus ada upaya lebih nyata lagi untuk memajukan olahraga prestasi di tingkat internasional. Upaya nyata itu, misalnya, mulai menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah untuk memetakan potensi olahraga di daerah. Kalau selama ini Lampung menjadi andalan angkat besi, mestinya di sana didirikan pusat pelatihan angkat besi.

Kalau di NTT lahir benih atletik, sudah seharusnya di sana dibangun fasilitas olahraga lari yang nyaman. Jangan semuanya dipusatkan di Jakarta. Tidak salah pula bila menteri mulai membangun hubungan yang baik dengan induk olahraga. Untuk keluar dari situasi darurat prestasi olahraga saat ini tidak bisa dengan permohonan maaf. Negeri ini sudah inflasi kata maaf yang diucap pejabat saban gagal memetik prestasi. Harus ada tindakan nyata terukur untuk memajukan olahraga, bukan dengan kata kata. ( )