Membicarakan Cinta Posesif di Film Terbaru Edwin

Purba Wirastama | 27 Juli 2017 16:12
 Adegan film Posesif (Foto: dok. Palari films)
Adegan film Posesif (Foto: dok. Palari films)
Metrotvnews.com, Jakarta: Edwin, sutradara yang dikenal lewat film pemenang festival Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) dan Postcards from The Zoo (2012), mengerjakan film terbaru berjudul Posesif. Berbeda dengan jenis karya sebelumnya yang cenderung punya ceruk pasar terbatas, Posesif adalah film panjang pertama Edwin untuk pasar komersial.

Kisahnya berpusat pada Yudhis dan Lala, dua remaja SMA yang saling jatuh cinta sekaligus mengalami cinta pertama. Lala adalah atlet loncat indah dan murid populer di sekolah. Sementara Yudhis adalah murid pindahan baru. Tema besarnya cukup klasik. Namun Edwin, penulis naskah Ginatri S Noer, serta dua produser dari Palari Films punya pandangan khusus soal isu cinta pertama remaja.

"Seperti layaknya pasangan baru jatuh cinta, ingin kenal, mengeksplorasi hubungan lebih intens lagi, lebih serius lagi. Dalam perjalanan, ada halangan dan rintangan di antara mereka, yang membuat hubungan mereka terlibat dengan rasa posesif Yudhis," kata Edwin dalam obrolan di kantor redaksi Metrotvnews.com, beberapa waktu lalu.

"Sebenarnya seperti film-film cinta pada umumnya. Tapi ketika salah satu dari mereka tidak bisa mengontrol egonya, perhatian yang berlebihan, muncullah keinginan memiliki yang berlebihan. Lalu menjadi posesif, menjadi masalah," lanjutnya.

Ide cerita datang dari obrolan panjang Edwin serta produser Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia mengenai film yang cocok bagi remaja SMP dan SMA. Sebelumnya Edwin dan Meiske sudah sering berkolaborasi dalam beberapa proyek film. Gina, yang sudah menulis sejumlah drama cinta seperti Habibie & Ainun (2012) dan Perempuan Berkalung Sorban (2009), direkrut sebagai penulis.

Gina ternyata punya pandangan serupa terkait kisah cinta remaja. Setelah melakukan riset intens termasuk menemui sejumlah orang, mereka sepakat untuk menggali sisi posesif dalam hubungan cinta remaja.

"Isu ini sebenarnya sangat universal dan relevan terjadi hingga saat ini. Enggak cuma sekarang, dulu (sudah ada) isu posesif (dalam) hubungan pasangan remaja," kata Zaidy.

Kendati posesif sudah jadi topik obrolan umum, Edwin merasa bentuk hubungan semacam ini kadang sulit dideteksi.

"Banyak yang bilang, ini bukti cinta. Misalnya, pengorbanan yang berlebihan dijadikan sesuatu yang romantis. Meromantisir perilaku posesif itu sangat memungkinkan di era sekarang. Kita enggak sadar saja. Dicemburuin itu kadang menyenangkan. Tapi kita harus tahu kapan yang berlebihan, kapan yang lucu untuk kita kenang," ujar Edwin.


Adegan film Posesif (Foto: dok. Palari films)

Merayakan Energi Muda

Posesif sekaligus menjadi film romantis pertama Edwin yang melibatkan tokoh anak SMA.  Film seperti Postcards atau Roller Coaster (Belkibolang, 2010) memang punya elemen cerita soal hubungan lelaki perempuan, tetapi tidak secara khusus menyorot dua remaja yang berpacaran.

Setidaknya bagi Edwin sendiri, pria kelahiran 1978, segala perasaan dalam cinta pertama memiliki energi sangat kuat dan sulit dilupakan, sehingga layak untuk dirayakan kembali lewat film. Zaidy sependapat. Baginya, kisah cinta dua manusia, pahit dan manis, berawal dari remaja.

"Kita merasa isu posesif ini sebenarnya penting. Semua bermuara di sini. (Sikap posesfi) seringkali terjadi di kalangan remaja, saat mereka baru pertama kali jatuh cinta, baru berusaha memaknai cinta. Kita mau bahas, bagaimana remaja-remaja ini secara naif memaknai arti cinta sendiri," ungkap Zaidy.

Adipati Dolken dan Putri Marino dipercaya untuk menghidupkan tokoh Yudhis dan Lala. Adi, aktor kelahiran 1991, telah punya riwayat di sejumlah film drama cinta. Sementara Putri, kelahiran 1993, memulai debut akting di film ini. Sebelumnya dia lebih dikenal sebagai presenter acara televisi My Trip My Adventure.

Kedua pemain dipilih lewat proses audisi selama enam bulan. Layaknya kisah Romeo-Juliet, Galih-Ratna, atau Rangga-Cinta, Edwin menyatakan sedari awal dia hendak menggali kekuatan interaksi antara karakter Yudhis dan Lala. Dia merasa beruntung mendapatkan pemain Adi dan Putri.

"Banyak energi yang saya dapat dari mereka berdua," ujar Edwin sembari menyebut bahwa proses audisi memang harus mampu menginspirasi semua orang yang terlibat dalam pengerjaan film.

"Audisi, terus terang, mempengaruhi pembentukan film ini. Adegan Adipati dan Putri di awal proses film, memang sangat kuat untuk menciptakan dunianya, karakternya. Dalam proses audisi itu pun, mereka juga baru kenal dengan Adipati dan Putri. Saya merasakan energi dan niat yang tulus untuk memberi banyak di film ini," imbuhnya.

Adi mengaku senang dan bersyukur dapat terlibat karena mendapat hasil yang melebihi harapan dia. Dia merasa film ini menjadi langkah cukup besar dalam hidup dan karier sebagai aktor.  Putri, sebagai aktor baru, senang dapat bertemu dengan orang-orang yang suportif dan membuat dia jatuh cinta dengan dunia akting.

Mereka berdua mendapat kebebasan untuk menggali karakter masing-masing lebih dalam. Termasuk soal bagaimana membangun kedekatan hubungan tokoh Yudhis dan Lala.

"Yang pasti rasa percaya, lalu kita jujur dengan apa yang mau kita lakukan. Metode paling ampuh dua itu, jujur dan percaya. Gue jujur sama Putri, gue percaya sama Putri, apa yang mau gue lakukan, ya sudah itu," jawab Adi ketika disinggung soal pembangunan interaksi emosional dengan Putri.

"Kita sayang banget sama proyek ini. Kita ingin, bagaimana caranya kita berdua tampil sangat natural. Kita kasih semuanya," sahut Putri.

Memaknai Posesif

Namun perayaan energi muda tidak semata merujuk pada hal-hal indah dan manis. Edwin dan kawan-kawan memang hendak mempertebal sisi kelam hubungan cinta remaja. Dalam riset, mereka menemukan bahwa isu tersebut sangat penting dan sering terjadi di banyak tempat.

"Fakta-fakta yang kita dengar memang kurang menyenangkan. Bahwa ada kemungkinan kekerasan dalam pacaran. Kalau dari angka, memang makin meningkat. Kita ingin sampaikan itu."

"Bukan untuk mengekploitasi. Tapi untuk belajar, sama-sama memahami bagaimana kita semestinya berhubungan dengan manusia, bisa pertemanan atau percintaan, tanpa harus (membuat pesan yang menggurui). Karena seingat saya, kalau saya dapat pesan dari yang lebih tua, atau nonton film yang ada pesannya (moral), itu selalu menyebalkan," ungkap Edwin.

Menurut Zaidy, kadang orang salah mengartikan konsep memiliki. Tidak lagi sekadar memiliki cinta, tetapi memiliki pasangan seutuhnya. Kendati bukan hal baru, Zaidy merasa isu tersebut belum diangkat secara khusus di film Indonesia, khususnya kisah remaja. Dia juga menilai film Posesif dapat menjadi pemantik diskusi antar teman dan orangtua.


Adegan film Posesif (Foto: dok. Palari films)

Secara garis besar, Meiske menyebut bahwa tindakan posesif punya implikasi dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kejadian-kejadian di masyarakat yang jauh dari rasa saling menghormati, berangkat dari sikap dan tindakan kepada pasangan.

"Tampaknya seperti hal-hal kecil. Tapi justru hal-hal kecil ini dibangun sejak masih sangat awal. Dan sebenarnya usia remaja itu usia penting pembentukan karakter. Bagaimana mereka bisa menghargai karakter orang lain. Dan saya pikir menghargai pasangan itu bentuk paling mendasar (dari menghargai orang lain)," ungkap Meiske.

Barangkali terdengar sangat idealis. Namun Adi dan Putri yang lebih muda punya pandangan yang relatif lebih mudah.

"Posesif itu mempunyai dua unsur. Unsur cinta dan unsur takut. Kalau kita bisa membuat keduanya seimbang, posesif bisa menjadi hal menarik. Buat gue, itu bisa dilihat dari film ini," ungkap Adi.

"Pada dasarnya ini cerita anak SMA. Aku percaya semua anak perempuan SMA punya titik di mana dia bakal mengalami proses seperti ini. Persimpangan antara dia harus milih karier, persahabatan, dan pacar," imbuh Putri.


Pendekatan Romance-Suspense

Kisah cinta film Posesif digarap dengan pendekatan suspense atau ketegangan. Pendekatan yang agak mirip diakui Edwin pernah dilakukan di film Roller Coaster. Dalam film pendek ini, dua sahabat lama, lelaki dan perempuan, hendak melihat ketelanjangan tubuh masing-masing lewat sebuah tantangan.

Terkait kisah cinta Yudhis dan Lala, Edwin merasa pendekatan romance-suspense sesuai dengan berbagai ketegangan perasaan yang mengemuka dalam cinta pertama. Dia ingin cerita juga dapat diikuti penonton secara menegangkan.

"Banyak dari kita mungkin ingat, cinta pertama itu manis pahit itu bercampur dengan deg-degan. Rasa suspense itu memang selalu ada. Mulai dari kecil-kecil saja, misal dia suka enggak dengan lagu ini, atau dengan makanan ini."

"Menebak-nebak itu kan menegangkan. Film ini memang penuh dengan itu. Apalagi kita membicarakan emosi yang tidak terkontrol. Karakter Yudhis ini tidak bisa mengontrol karakternya, egonya, takut kehilangan Lala," ujar Edwin.

Posesif kini masih dalam tahap pasca-produksi. Film direncanakan tayang pada Oktober 2017. Mereka juga belum merilis tayangan teaser atau trailer hingga akhir Juli. Namun sudah ada dua video perkenalan tokoh dan 10 seri vlog jalan-jalan Yudhis dan Lala di kanal YouTube Palari Films.

Menurut Meiske dan Zaidy, vlog berseri dibuat setelah syuting selesai demi mengenalkan hubungan Yudhis dan Lala serta ciri khas masing-masing. Vlog dibuat oleh tim kecil selama empat hari dengan berkeliling Jakarta. Penyutradaraan ditangani Pritagita Arianegara (Salawaku 2016) dan juga Adipati.

"Ide awalnya memang sebagai salah satu perkenalan karakter Yudhis dan Lala. Apa sih yang Lala suka? Apa sih yang Yudhis suka?" kata Meiske.

Sejumlah momen manis remaja dibangun lewat vlog tersebut. Namun jika menyimak gambaran cerita, kisah Yudhis dan Lala tidak akan berjalan dengan baik. Menurut sinopsis resmi, cerita kurang lebih begini.

Hidup Lala jungkir balik. Bukan karena ia seorang atlet loncat indah, bukan pula karena ayahnya yang keras melatihnya, tapi karena Yudhis, murid baru di sekolahnya. Yudhis adalah cinta pertama Lala. Dia berhasil mengikat hati Lala hanya untuknya dan membuat gadis itu berjanji setia selamanya.

Namun perlahan Lala dan Yudhis harus menghadapi bahwa kasih mereka bisa hadirkan kegelapan. Cinta Yudhis yang awalnya tampak sederhana dan melindungi ternyata rumit dan berbahaya. Janji mereka untuk setia selamanya malah jadi jebakan.

Sekarang Lala mengambang dalam pertanyaan: apa artinya cinta? Apakah seperti loncat indah, yang bila gagal, harus ia terus coba lagi atas nama kesetiaan? Ataukah ia hanya sedang tenggelam dalam kesia-siaan?

Secara personal, sang sutradara punya pernyataan tegas soal hubungan yang posesif. Baginya, cinta pertama layak dinikmati, tetapi juga harus disadari bahwa dalam titik tertentu, pemaksaan bukan bentuk hubungan yang baik. Rasa takut berlebihan dan ketidakpercayaan bukan bagian cinta yang harus dirayakan.

"Hubungan yang sudah terlanjur posesif itu saya rasa harus ditinggakan. Harus disepakati bahwa ini bukan hubungan yang sehat. Ketika kita bilang enggak, ya artinya enggak. Jangan dicari-cari," tukas Edwin.


  (ELG )